Ini Tips Kesehatan Ibu dan Bayi Saat Menggunakan Buku KIA

Home / Berita / Ini Tips Kesehatan Ibu dan Bayi Saat Menggunakan Buku KIA
Ini Tips Kesehatan Ibu dan Bayi Saat Menggunakan Buku KIA buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) (FOTO: TIMES Indonesia)

TIMESPASURUAN, MALANG – Setiap Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ante natal care (ANC) di tempat fasilitas layanan kesehatan (Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit) akan diberikan sebuah buah buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang mengupas secara detail tips kesehatan ibu dan bayi. Apa pentingnya buku KIA?

Untuk diketahui, ANC adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dokter atau bidan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik dari ibu hamil.

Adapun tujuan dilakukan ANC adalah untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil: 1) Deteksi dini maslah-maslah kesehatan ibu saat kehamilan sehingga membantu mencegah terjadinya komplikasi saat kehamilan dan persalinan, 2) Membantu ibu mempersiapkan persalinan, menjaga kesehatan mental ibu. Menghindari resiko komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Mempersiapkan ibu untuk masa nifas dan pemberian ASI eksklusif.

Buku KIA memuat beberapa informasi tentang kesehatan ibu (hamil) serta anak sampai dengan usia 6 tahun. Ibu Hamil akan memperoleh Buku KIA secara gratis di setiap fasilitas layanan kesehatan pada saat datang pertama periksa hamil pada trisemester pertama kehamilan (sebelum usia kehamilan 13 minggu).

Buku KIA adalah salah satu instrumen yang baik dan tepat untuk edukasi Ibu serta pencatatan status kesehatan ibu dan bayi  (memperbaiki kualitas kesehatan ibu dan anak) diharapkan dapat berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB/N). Terlebih jika Ibu Hamil dan tenaga kesehatan dapat dengan maksimal memanfaatkan fungsi dari buku KIA.

Sebelum Buku KIA dibawa pulang, ingatlah poin-poin berikut: Dalam penjelasan umum dalam buku KIA, ada 4 (empat) langkah dalam penggunaan buku KIA.

Pertama, Buku KIA dibaca dan dimengerti, tidak hanya oleh ibu, namun juga oleh seluruh anggota keluarga. oleh ibu. Jangan malu untuk bertanya kepada dokter, bidan, perawat, petugas kesehatan lain dan kader jika ada hal yang tidak di mengerti.

Kedua, Buku KIA selalu dibawa, pada saat ibu hamil, bersalin dan ibu nifas serta anak berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, praktik dokter spesialis, praktik dokter dan praktik bidan).

Ketiga, Buku KIA dijaga, jangan rusak dan hilang, karena buku KIA berisi informasi dan catatan penting kesehatan ibu dan anak. Buku KIA juga digunakan pada jaminan kesehatan dan pihak lain diluar sektor kesehatan. (Tenaga kesehatan) memberikan penjelasan pada ibu dan keluarga.

Keempat, menjelaskan buku KIA, tenaga kesehatan dan kader menjelaskan isi buku KIA kepada ibu dan keluarga dan meminta untuk menerapkannya.

Selanjutnya, mengapa buku KIA harus dibaca dan dimengerti? Karena bukan hanya oleh ibu namun oleh seluruh anggota keluarga. Bagi Ibu hamil dan atau yang masih punya anak balita, berapa banyak/orang (suami, orang tua, anak) yang sudah membaca buku KIA secara keseluruhan dan seksama? Jangan ragu untuk meminta petugas kesehatan menjelaskan tentang isi Buku KIA

Diketahui, buku KIA berisi informasi kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, imunisasi, tumbuh kembang balita, penanganan pertama bayi sakit, perawatan anak dengan disabilitas dan cara melindungi anak dari kekerasan seksual (Kemenkes, 2015).

Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) juga berisi informasi penting yang dibutuhkan oleh ibu dan keluarga yang harus disampaikan oleh petugas kesehatan melalui komunikasi informasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku kesehatan ibu hamil dan keluarga agar ibu dan keluarga mampu menjaga, memantau dan meningkatkan kesehatan ibu hamil dan janin serta ibu dan keluarga mengenali tanda bahaya sedini mungkin pada ibu hamil sehingga bisa dilakukan penatalaksanaan dengan cepat. Hal ini dapat mengurangi angka kejadian ibu hamil resiko tinggi dan mengurangi angka kematian ibu (Kemenkes, 2015)

Buku KIA harus selalu dibawa. Pantaun atau pengamatan beberapa tenaga kesehatan maupun kader dari keempat poin yang sering terlewati adalah pada poin ke-2 (Buku KIA selalu dibawa).

Sering ditemukan ibu yang periksa keahmilan atau yang membawa berobat anak balitanya ke fasilitas layanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, klinik, praktik bidan mandiri) sama sekali tidak membawa buku KIA-nya.

Alasannya pun cukup beragam, dari yang menganggap buku itu hanya untuk di posyandu sampai yang buku KIA-nya disimpan oleh kader posyandu atau oleh bidan desa, mungkin malas bawa, tidak peduli terhadap pentingnya membawa buka KIA, atau mungkin murni lupa.

Kenapa buku Buku KIA harus selalu dibawa, karena Buku KIA merupakan catatan kesehatan  baik untuk ibu hamil mapun untuk anak sehingga harus selalu dibawa pada saat melakukan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat) pada setiap unit-unit fasilitas layanan kesehatan sehingga status kesehatan ibu maupun anak tercatat dan terus terjadi pemutakhiran.

Buku KIA harus dijaga, jangan sampai rusak, apalagi sampai hilang, kenapa ? karena Buku KIA yang berisikan cacatan penting kesehatan ibu dan anak.

Terakhir, tenaga kesehatan harus memberikan penjelasan sedetail mungkin tentang isi yang terkandung di dalam Buku KIA dan manfaat-manfaatnya baik kepada Ibu, bayi maupun anak dan anggota keluarga pendampingnya terutama terkait dengan rekam medis yang terjadi baik pada ibu, bayi maupun anak.

Misalkan seperti halnya: pertama, Catatan kesehatan ibu hamil (diisi oleh dokter/dokter spesialis). Kedua, Catatan Hasil Pelayanan Ibu nifas (diisi oleh bidan/dokter). Ketiga, Catatan Hasil Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir yang diisi oleh tenaga kesehatan (bidan/perawat/dokter).

Proses menjelaskan Buku KIA perlu dilakukan dengan komunikasi dua arah antara tenaga kesehatan dengan pasien maupun dengan pendamping (keluarga pasien), sehingga bagi pasiesn juga dapat menanyakan atau minta penjelasan kepada tenaga kesehatan tentang pemutakhiran eakam medis dan intervensi-intervensi lanjutan yang perlu dilakukan oleh pasien maupun oleh pendaping (keluarga pasien).(*)

*Tulisan ini diolah dari berbagai sumber oleh tim yang tergabung dalam Kolaborasi Upaya Penurunan AKI/AKB Kabupaten Malang yang dimotori oleh Jalin USAID

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com